
Flip Globe | 27 Oktober 2025
By : Anonim
Kalau kamu pernah transfer uang ke luar negeri, pasti pernah diminta untuk mengisi kode IBAN atau kode SWIFT. Buat sebagian orang, dua istilah ini terdengar mirip dan membingungkan.
Padahal, keduanya punya fungsi yang berbeda dalam sistem transfer internasional.
Singkatnya, IBAN dan SWIFT adalah alat identifikasi bank di transaksi global. Bedanya, IBAN lebih fokus ke nomor rekening penerima, sementara SWIFT mengidentifikasi bank tempat rekening itu berada.
Biar kamu nggak salah isi dan transfermu lancar sampai ke tujuan, yuk pahami lebih dalam apa itu IBAN, apa itu SWIFT Code, negara mana yang pakai keduanya, dan kenapa ini penting banget kalau kamu sering kirim uang, terutama ke China.
IBAN atau International Bank Account Number adalah sistem penomoran rekening standar internasional yang digunakan untuk mengidentifikasi rekening penerima secara spesifik di suatu negara.
IBAN dikembangkan pertama kali oleh European Committee for Banking Standards (ECBS) dan sekarang digunakan oleh lebih dari 70 negara di dunia, terutama di kawasan Eropa dan Timur Tengah.
Nomor IBAN terdiri dari kombinasi huruf dan angka, biasanya antara 15 sampai 34 karakter. Struktur IBAN berisi:
Sebagai contoh:
Dari contoh di atas, kamu bisa lihat bahwa IBAN berfungsi seperti “alamat lengkap” rekening penerima. Jadi ketika kamu mengirim uang, sistem perbankan bisa mengenali secara otomatis ke rekening mana dana harus dikirim tanpa perlu pengecekan manual.
IBAN juga mengurangi risiko kesalahan transfer karena sistemnya sudah distandarkan secara internasional. Itulah kenapa negara-negara di Eropa menjadikannya wajib untuk transaksi lintas negara.
Sementara SWIFT Code (kadang juga disebut BIC atau Bank Identifier Code) adalah kode identifikasi bank yang digunakan di seluruh dunia untuk memastikan uang dikirim ke bank yang benar.
Kode SWIFT terdiri dari 8 hingga 11 karakter, yang menunjukkan:
Contoh:
Misalnya kamu mau transfer ke rekening HSBC di Hong Kong. Kode SWIFT digunakan oleh sistem antarbank global untuk mengenali ke mana dana kamu harus dikirim, bahkan sebelum nomor rekening dicek.
Jadi, kalau IBAN adalah “alamat rumah”, SWIFT Code bisa dibilang “nama jalan dan kotanya”. Tanpa SWIFT, sistem bank nggak tahu ke mana arah pengiriman uangnya.
Sistem SWIFT dikelola oleh Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT) yang bermarkas di Belgia. Hingga kini, lebih dari 200 negara dan 11.000 lembaga keuangan tergabung dalam jaringan SWIFT.
Baca Juga: Serba-serbi Swift Code: Definisi dan Cara Kerjanya
Meskipun keduanya sama-sama digunakan untuk transfer internasional, sistem IBAN dan SWIFT tidak selalu digunakan bersamaan di semua negara.
Negara pengguna IBAN
Sebagian besar negara Eropa (UE dan EEA), Timur Tengah, dan sebagian Afrika.
Contohnya: Jerman, Prancis, Italia, Belanda, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Negara-negara ini mewajibkan IBAN agar proses transfer lebih efisien dan mengurangi kesalahan administrasi.
Negara pengguna SWIFT
Hampir semua negara di dunia. Termasuk Indonesia, Amerika Serikat, China, Singapura, Jepang, dan Australia. Sistem SWIFT digunakan sebagai jaringan komunikasi antarbank global untuk mengirimkan instruksi transfer lintas negara.
Negara-negara di kawasan Eropa biasanya menggunakan kombinasi IBAN dan SWIFT Code sekaligus. IBAN untuk identifikasi rekening penerima, dan SWIFT untuk identifikasi bank penerima.
Sedangkan negara seperti Indonesia dan China tidak menggunakan IBAN, tapi tetap menggunakan SWIFT Code agar bisa berkomunikasi dengan sistem perbankan internasional.
Baca Juga: Ketahui Jenis Layanan Transfer Uang Internasional, Mana yang Paling Hemat?
Nah, kalau kamu sering transfer uang ke China untuk bayar supplier, penting banget untuk tahu bahwa China tidak menggunakan IBAN.
Sebagai gantinya, transfer ke China menggunakan:
Artinya, kalau kamu salah menuliskan satu karakter saja di SWIFT Code atau nama bank, uang bisa tertahan selama berhari-hari di sistem bank koresponden, atau bahkan dikembalikan dengan potongan biaya.
Selain itu, sistem SWIFT konvensional di bank tradisional sering kali melibatkan beberapa bank perantara (correspondent bank). Setiap bank perantara akan mengambil biaya kecil dari total transfer kamu. Itulah kenapa uang yang dikirim ke China sering berkurang dari jumlah awal yang kamu kirim.
Contohnya, kamu transfer USD 1.000 ke supplier di Guangzhou lewat bank biasa. Setelah melewati 2 bank perantara dan dikonversi ke yuan, supplier kamu mungkin hanya menerima sekitar USD 960–970 karena biaya koresponden dan spread kurs.
Prosesnya pun bisa makan waktu 2–5 hari kerja, tergantung jam operasional dan jaringan bank yang terlibat.
Itu sebabnya, banyak pelaku bisnis impor dari Indonesia kini beralih ke solusi transfer yang lebih efisien seperti Flip Globe.
Kalau kamu ingin transfer uang ke luar negeri tanpa repot memasukkan IBAN atau khawatir salah tulis SWIFT Code, Flip Globe bisa jadi pilihan terbaik.
Flip Globe mempermudah transaksi internasional dengan sistem digital yang cepat, transparan, dan jauh lebih murah dibandingkan bank konvensional.
Jadi, kalau kamu ingin membayar supplier di China, kamu cukup isi nama penerima, nama bank, nomor rekening, dan kode SWIFT-nya. Selanjutnya, Flip Globe akan memproses transaksi dengan kurs terbaik dan biaya super hemat, tanpa kejutan biaya tambahan.
Gunakan Flip Globe untuk kirim uang ke luar negeri tanpa biaya koresponden, kurs transparan, dan proses super cepat. Baik untuk bayar supplier di China, kirim ke keluarga, atau transaksi bisnis, Flip Globe bantu uang kamu sampai aman dan utuh di tujuan.
Share